Untukmu, dariku

Hari itu aku mengenalmu, tidak pernah terbayang sebelumnya menjadi sesuatu yang berbeda.

Hari itu aku membuka diri, belum terbayang menjadi sesuatu yang jauh berbeda.

Hari itu aku khawatir, mulai terbayang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hari itu aku berduka, sudah terbayang apa yang Dia terjadikan untukku.

 

Aku tidak pernah menyalahkanmu atau dirimu, atau bahkan Dia.

Maaf aku belum mengerti akanmu sepenuhnya.

Maaf aku tidak pernah memenuhi keinginan2 hatimu seutuhnya.

 

Ingatlah, ketika aku terluka bukanlah berarti aku menjelekjelekan.

Ketika aku terluka, bukanlah berarti aku mendendam.

Tetapi ketika aku terluka, Dia memberikanku kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Bahwa terluka adalah rasa yang harus aku nikmati.

 

-untukmu, dariku-

 

Even with my dark side…

There’s a place that I know
It’s not pretty there and few have ever gone
If I show it to you now
Will it make you run away

Or will you stay
Even if it hurts
Even if I try to push you out
Will you return?
And remind me who I really am
Please remind me who I really am

Everybody’s got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody’s a picture perfect
But we’re worth it
You know that we’re worth it
Will you love me?
Even with my dark side?

Like a diamond
From black dust
It’s hard to know
It can become
A few give up
So don’t give up on me
Please remind me who I really am

Everybody’s got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody’s a picture perfect
But we’re worth it
You know that we’re worth it
Will you love me?
Even with my dark side?

Don’t run away
Don’t run away
Just tell me that you will stay
Promise me you will stay
Don’t run away
Don’t run away
Just promise me you will stay
Promise me you will stay

Will you love me? ohh
Everybody’s got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody’s a picture perfect
But we’re worth it
You know that we’re worth it
Will you love me?
Even with my dark side?

Berbicara Tentang Dunia

Hello world..! :)
It has been over two weeks from my born day. Umurku sekarang sudah seperempat ABAD! Alhamdulillah masih diberikan kesempatan sampai ke usia sekarang. Tapi lantas terbersit juga pertanyaan, “Sudah sejauh mana sumbangsihku terhadap keluarga atau lingkungan? Sudah sejauh mana pencapaian target-targetku? Dan berakhir pada sudah sejauh mana bekal amalan2ku untuk hidup yang sebenarnya, yang abadi, kelak?”

Kalau orang lain bilang, “UUD|Ujung-ujungnyaDuit”, aku sih “UUA|Ujung-ujungnyaAkhirat” (singkatannya maksa). Hari kelahiran itu antara senang dan sedih, senangnya karena begitu banyak temans dan kawans yang mendoakan, sedihnya ya karena berkuranglah 1tahun usia kita (makin tua aja!tapi polapikir belum banyak berubah, doh!). Terlebih lagi kalau mikirin si UUA itu, yaa Rabb.. Ampuni saya yang sering menyia-nyiakan waktu :’(
Berbicara tentang akhirat, berbicara tentang kehidupan kita di dunia pula. So, mari kita berbicara tentang Dunia. :)

In a glance, keduniawian diartikan sebagai materialisme. (Bener gak sih? Aku sih ngerasa gitu :P )
Coba lihat deh orang-orang yang berlomba mencari kebahagiaan dunia seringkali digambarkan dengan cita-cita mereka mengejar “materi”. Iyalah! Wong di dunia ini, orang lebih percaya sama yang dilihat ketimbang apa yang dirasa berdasar hati nurani mereka. #ehngomongapasih!

Aaah, sudah jelaslah maksudku. Umur-umur produktif itu sedang gencar2nya mencari kebahagiaan dunia, biar masa tuanya tinggal leha-leha menikmati kerjakerasnya. Kebahagiaan dunia itu diartikan dengan sekolah lancar jaya, lulus kuliah, dapat kerja di perusahaan bonafit, bergaji besar, menikah dengan pasangan yang cantik/ganteng, hidup mapan, keluarga harmonis, harta yang banyak, populer, punya anak pintar2, menikmati masa tua, and so on and so on. kasarnya mah numpuk harta lah, biar lancar jaya mau ngapa-ngapain (sotoy!). Bahkan ada yang mengartikan bahwa kebahagiaan dunia itu masa kecil bahagia, masa muda hura-hura, masa tua kaya raya, sudah mati masuk surga. *tepokjidat*

“Terus kenapa kalo mikir gitu? Gak boleh? dosa?”

“Gak kok, manusiawi malah… Selow ateuuhh..”

Um, baiklah.. Mari berbagi sedikit tentang persepsiku

Berbicara tentang dunia, berbicara tentang kebahagiaan.

Dengan pemahamanku sampai saat ini, kebahagiaan dunia gak selalu tentang mengejar materi. Kalau mau memanusiakan diri dulu tanpa mengabaikan DIA, kebahagiaan dunia buatku itu… Adalah mengenai bagaimana kamu menghadapi|menjalani|menyikapi dan menikmati hidup ini dengan ikhlas untuk bahagia. (ngomongsihenak,,#plak!).  But hey! Itu kan pendapatku, pendapatmu? Silahkan didefinisikan sendiri :)

Berbicara tentang dunia, berbicara tentang keikhlasan.

Ikhlas itu bukan berarti ringan dalam menjalani hidup, oh no no no… you got it wrong honey. Ikhlas itu adalah tetap berjalan|berjuang|bersungguh-sungguh menghadapi hidup, walau dalam situasi yang berat dan atau ringan. Jadi, walaupun kita tau jalannya sulit, berliku, tapi kita tetap istiqamah (berusaha gak mengeluh), itu baru ikhlas. Kayanya belajar ikhlas itu seumur hidup yaaa. Kalau kita udah ikhlas, insya Allah ujung-ujungnya pasti bahagia, mau kena musibah atau lagi banyak rejeki. Belajar ikhlas, juga secara gak langsung kita akan belajar bersyukur, kalau udah bisa bersyukur, nikmatnya hidup ini, pasti insya Allah. #kokjadiserius

Berbicara tentang dunia, berbicara tentang memberi dan berbagi.

Memberi|Berbagi. Oh Tuhan, indah dan nikmat sekali rasanya jika saya bisa memberi dan berbagi terhadap sesama. Euphorianya subhanallah deh (at least it yang aku rasain so far). Bukan semata-mata memberi/berbagi materi, tapi juga cinta. Ya, aku agak menekankan cinta dan kasih sayang disini. Lihat betapa banyak kasus orangtua kaya raya, tapi kasih sayang di keluarganya amburasut a.k.a berantakan. Sementara keluarga yang sederhana, penuh kasih sayang dan cinta, begitu hangat dan bahagia dengan kehidupan mereka. (akupun iri,,#curcol). Intinya sih, salah satu yang penting dalam hidup ini adalah memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang. Manusia itu makhluk yang berpikir rasional bukan? Maka manusia akan berlaku rasional bukan? So, mengertilah bahwa cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional [Levinas]. Gak kebayang kalau kita ngasih sedekah sambil menggerutu, karena gak ada rasa kasihsayang terhadap sesama didalamnya. Mengerti kan maksudku? Well, tunggu apa lagi? Spread the love! Gak melulu sama pasangan kita, tapi juga orangtua, saudara, kerabat, dan kawans kita. :)

Well, anyway, aku juga sedang mencari kebahagiaan duniaku sendiri. Yah tentunya selain cita-cita “materialisme” yang aku sudah rencanakan, memberikan cinta|kasihsayang terhadap sesama, dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku, tentu saja semua itu untuk mengharap ridhoNYA. Hanya ridho-NYA. Amin. Semoga tercapai ya Rabb, amiinn! (Eh jadi resolusiku seumur idup nih). Gak melulu tentang materi kan? ^^

Berbicara tentang Dunia, Berbicara tentang Cinta #eh
maksudnya.. Berbicara tentang Dunia, tidak akan ada habisnya.

Tetapi, usia kita itu rahasia Allah. What will I do next, if I die young? … to be continued ^^

Ada apa dengan aku?

Ada apa dengan aku akhir-akhir ini?
*semoga tidak ada yang berkeberatan dengan penggunaan kata “aku” saat ini  :)

Akhir-akhir ini selalu bersemangat menulis, tapi lantas kalau tidak terlelap, atau idenya menguap begitu menyentuh keyboard.

Akhir-akhir ini aku merasa malas menyentuh “beberapa” social network itu. Walau ternyata memainkannya sebentar karena iseng.

Akhir-akhir ini beberapa kali menangisi diri sendiri, sedikit meratapi hidup, dan masalah yang belum kunjung terlihat jalan keluarnya.

Akhir-akhir ini sedang mengikuti emosiku yang naik turun menghadapi sesuatu. Silahkan mengatakan aku labil, tapi hey! Aku beruntung mampu merasakan emosi.

Akhir-akhir ini aku pun merasa ingin marah kepada dia, dan berkata “aku amat kesal dengan sikapmu belakangan!”

Akhir-akhir ini keracunan Christina Perri, Paper Aeroplanes, and definitely The Honey Trees. Tidak lupa, tumpukan buku-buku yang belum kubaca semua. Lengkap menemani malam-malamku yang selalu hidup oleh pikiranku.

[PS : Aku jatuh cinta pada Perri, Aeroplanes, dan Honey Trees!]

Akhirnya, akhir-akhir ini bisa kusimpulkan aku sedang mengeluhkan kebingunganku pada usiaku saat ini yang akan berkurang lagi tepat 1 tahun beberapa hari lagi. Tentang apa yang diinginkan dari aku versus apa yang kuinginkan untuk diri sendiri. [The tension of opposites]

Kepada siapapun yang membaca (kalau memang ada), maaf kalau konteks tulisanku kali ini sangat negatif karena isinya tentang keluhan dan masalah. Betapa manusia selalu mengeluh atas masalahnya, dan sepertinya yang terjadi dalam sebagian besar waktu hidupnya adalah “banyaknya masalah”. Pernah berpikir seperti itu? Sepertinya yang selalu dibahas adalah masalah dan masalah.

P R O B L E M S. (plural|jamak).

Aku pun menyadari itu, aku manusia, bukan malaikat yang ditugaskan untuk “bertakwa” (tunduk|patuh) terhadap perintahNya, bukan juga superhero yang tampak superkuat. Aku layaknya manusia lainnya, yang pernah (atau sering?) mengeluh jika ada kejadian yang tidak mengenakkan, yang masih kurang bisa bersyukur (masih belajar), yang mungkin terlihat cerdas padahal masih bodoh, yang masih menyimpan banyak harapan dan impian (DAN berharap semua tercapai dan terbaik, padahal belum tentu).

Aku bukan ahli agama, tapi setidaknya aku mempunyai “sistem hidup” yang aku pegang saat ini, orang bilang religion/agama, aku bilang itu adalah “Dien”. Dien | cara kita hidup. Nevertheless, aku selalu (ingin selalu) melibatkan Dia ke dalam hidupku, apapun itu, melihat dari sudut pandang Dia. Akan tetapi, ijinkan aku memanusiakan diri dulu untuk saat ini, tanpa mengabaikan Yang Maha Menciptakan.

Aku sedang ingin merasakan kehidupanku sekarang dan bagaimana mengisi hari-hariku kedepannya. Entah kenapa, yang acapkali aku lihat hanya masalah-masalah yang bertubi-tubi datang. Kali ini sungguh berat, terasa menyesakkan, mungkin karena apa yang aku inginkan belum juga tercapai. Aku tidak bermaksud “dagang derita” disini. Hanya ingin menumpahkan isi pikiranku, semoga bisa menjadi sesuatu di kemudian hari.

Semua keluarga bahagia dengan caranya masing-masing, dan sebuah keluarga juga tidak bahagia dengan caranya sendiri.

Begitulah aku kutip dari “Anna Karenina” karya Leo Tolstoy. Ini adalah salah satu yang masih belum terlihat jalan keluarnya. Aku melihatnya rumit, sampai-sampai aku sudah jenuh dan malas berhadapan dengan yang satu ini. More

Scrambling

Why

do
you

have to be

such

a

pain in the a**

???

Dibalik kesabaran.

Have you been questioning your life? I’ve been. But then, I found this beautiful and simple article, very touching indeed. I feel what that person felt. And I found the answer :)

~*~*~DIA MENGAJARIMU UNTUK BERSABAR~*~*~

Assalamu’alaikum.wr.wb.

…Seorang kawan bertanya dengan nada mengeluh.

“Dimana keadilan ALLAH?”, Ujarnya. “Telah lama aku memohon dan meminta padaNya satu hal saja. Kuiringi semua  itu dengan segala kataatan padaNya. Kujauhi segala larangannya. Kutegakkan yang wajib. Kutekuni yang sunnah.  Kutebarkan shadaqah. Aku berdiri di waktu malam. Aku bersujud di kala dhuha. Aku baca KalamNya. Aku upayakan sepenuh kemampuan mengikuti jejak RasulNya. tapi hingga kini ALLAH belum mewujudkan harapanku itu. Sama sekali.”

Saya menatapnya iba. Lalu tertunduk sedih.

“Padahal,” lanjutnya sambil kini berkaca-kaca.”Ada teman lain yang aku tahu ibadahnya berantakan. Wajib nya tak utuh. Sunnahnya tak tersentuh. Akhlaknya kacau. Otaknya kotor. Bicaranya bocor. tapi begitu dia berkata bahwa dia menginginkan sesuatu, hari berikutnya segalanya telah tersaji. Semua yang dia minta didapatkan. Dimana keadilan ALLAH?”

Rasanya saya punya banyak kata-kata untuk manghakiminya. Saya bisa saja mengatakan “Kamu sombong. Kamu bangga diri dengan ibadahmu. Kamu menganggap hina orang lain. Kamu tertipu oleh kebaikanmu sebagaimana iblis telah terlena! Jangan heran kalau doamu tidak diijabah. Kesombonganmu telah menghapus segala kebaikan. Nilai dirimu hanya anai-anai beterbangan. Mungkin kawan yang kau rendahkan jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi ALLAH karena dia merahasiakan amal shalihnya!”
Saya bisa mengucapkan itu semua. Atau banyak kalimat kebenaran lainnya.

Tapi saya sadar. Ini ujian dalam dekapan ukhuwah. Maka saya memilih sudut pandang lain yang saya harap lebih bermakna baginya daripada sekedar terinsyafkan tapi sekaligus terluka. Saya khawatir, luka akan bertahan jauh lebih lama daripada kesadarannya.

Maka saya katakan padanya,

“Pernahkan engkau di datangi pengamen?”

“Maksudmu?”
More

Previous Older Entries

Joyfully Journey

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.