Berbicara Tentang Dunia

Hello world..! :)
It has been over two weeks from my born day. Umurku sekarang sudah seperempat ABAD! Alhamdulillah masih diberikan kesempatan sampai ke usia sekarang. Tapi lantas terbersit juga pertanyaan, “Sudah sejauh mana sumbangsihku terhadap keluarga atau lingkungan? Sudah sejauh mana pencapaian target-targetku? Dan berakhir pada sudah sejauh mana bekal amalan2ku untuk hidup yang sebenarnya, yang abadi, kelak?”

Kalau orang lain bilang, “UUD|Ujung-ujungnyaDuit”, aku sih “UUA|Ujung-ujungnyaAkhirat” (singkatannya maksa). Hari kelahiran itu antara senang dan sedih, senangnya karena begitu banyak temans dan kawans yang mendoakan, sedihnya ya karena berkuranglah 1tahun usia kita (makin tua aja!tapi polapikir belum banyak berubah, doh!). Terlebih lagi kalau mikirin si UUA itu, yaa Rabb.. Ampuni saya yang sering menyia-nyiakan waktu :’(
Berbicara tentang akhirat, berbicara tentang kehidupan kita di dunia pula. So, mari kita berbicara tentang Dunia. :)

In a glance, keduniawian diartikan sebagai materialisme. (Bener gak sih? Aku sih ngerasa gitu :P )
Coba lihat deh orang-orang yang berlomba mencari kebahagiaan dunia seringkali digambarkan dengan cita-cita mereka mengejar “materi”. Iyalah! Wong di dunia ini, orang lebih percaya sama yang dilihat ketimbang apa yang dirasa berdasar hati nurani mereka. #ehngomongapasih!

Aaah, sudah jelaslah maksudku. Umur-umur produktif itu sedang gencar2nya mencari kebahagiaan dunia, biar masa tuanya tinggal leha-leha menikmati kerjakerasnya. Kebahagiaan dunia itu diartikan dengan sekolah lancar jaya, lulus kuliah, dapat kerja di perusahaan bonafit, bergaji besar, menikah dengan pasangan yang cantik/ganteng, hidup mapan, keluarga harmonis, harta yang banyak, populer, punya anak pintar2, menikmati masa tua, and so on and so on. kasarnya mah numpuk harta lah, biar lancar jaya mau ngapa-ngapain (sotoy!). Bahkan ada yang mengartikan bahwa kebahagiaan dunia itu masa kecil bahagia, masa muda hura-hura, masa tua kaya raya, sudah mati masuk surga. *tepokjidat*

“Terus kenapa kalo mikir gitu? Gak boleh? dosa?”

“Gak kok, manusiawi malah… Selow ateuuhh..”

Um, baiklah.. Mari berbagi sedikit tentang persepsiku

Berbicara tentang dunia, berbicara tentang kebahagiaan.

Dengan pemahamanku sampai saat ini, kebahagiaan dunia gak selalu tentang mengejar materi. Kalau mau memanusiakan diri dulu tanpa mengabaikan DIA, kebahagiaan dunia buatku itu… Adalah mengenai bagaimana kamu menghadapi|menjalani|menyikapi dan menikmati hidup ini dengan ikhlas untuk bahagia. (ngomongsihenak,,#plak!).  But hey! Itu kan pendapatku, pendapatmu? Silahkan didefinisikan sendiri :)

Berbicara tentang dunia, berbicara tentang keikhlasan.

Ikhlas itu bukan berarti ringan dalam menjalani hidup, oh no no no… you got it wrong honey. Ikhlas itu adalah tetap berjalan|berjuang|bersungguh-sungguh menghadapi hidup, walau dalam situasi yang berat dan atau ringan. Jadi, walaupun kita tau jalannya sulit, berliku, tapi kita tetap istiqamah (berusaha gak mengeluh), itu baru ikhlas. Kayanya belajar ikhlas itu seumur hidup yaaa. Kalau kita udah ikhlas, insya Allah ujung-ujungnya pasti bahagia, mau kena musibah atau lagi banyak rejeki. Belajar ikhlas, juga secara gak langsung kita akan belajar bersyukur, kalau udah bisa bersyukur, nikmatnya hidup ini, pasti insya Allah. #kokjadiserius

Berbicara tentang dunia, berbicara tentang memberi dan berbagi.

Memberi|Berbagi. Oh Tuhan, indah dan nikmat sekali rasanya jika saya bisa memberi dan berbagi terhadap sesama. Euphorianya subhanallah deh (at least it yang aku rasain so far). Bukan semata-mata memberi/berbagi materi, tapi juga cinta. Ya, aku agak menekankan cinta dan kasih sayang disini. Lihat betapa banyak kasus orangtua kaya raya, tapi kasih sayang di keluarganya amburasut a.k.a berantakan. Sementara keluarga yang sederhana, penuh kasih sayang dan cinta, begitu hangat dan bahagia dengan kehidupan mereka. (akupun iri,,#curcol). Intinya sih, salah satu yang penting dalam hidup ini adalah memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang. Manusia itu makhluk yang berpikir rasional bukan? Maka manusia akan berlaku rasional bukan? So, mengertilah bahwa cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional [Levinas]. Gak kebayang kalau kita ngasih sedekah sambil menggerutu, karena gak ada rasa kasihsayang terhadap sesama didalamnya. Mengerti kan maksudku? Well, tunggu apa lagi? Spread the love! Gak melulu sama pasangan kita, tapi juga orangtua, saudara, kerabat, dan kawans kita. :)

Well, anyway, aku juga sedang mencari kebahagiaan duniaku sendiri. Yah tentunya selain cita-cita “materialisme” yang aku sudah rencanakan, memberikan cinta|kasihsayang terhadap sesama, dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku, tentu saja semua itu untuk mengharap ridhoNYA. Hanya ridho-NYA. Amin. Semoga tercapai ya Rabb, amiinn! (Eh jadi resolusiku seumur idup nih). Gak melulu tentang materi kan? ^^

Berbicara tentang Dunia, Berbicara tentang Cinta #eh
maksudnya.. Berbicara tentang Dunia, tidak akan ada habisnya.

Tetapi, usia kita itu rahasia Allah. What will I do next, if I die young? … to be continued ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Joyfully Journey

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.